Kisah Inspiratif Refaldy, Dulu Cuci Sepatu Diupahi Rp 10 Ribu, Kini Sukses Buka Usaha Laundry Beromzet Miliaran Rupiah

Agil Hari Santoso – Kamis, 4 Juli 2019 | 12:03 WIB 

 Grid.ID – Sepuluh tahun lalu,  kita mungkin tak akan melihat  bisnis cuci sepatu menggeliat seperti sekarang ini.

Refaldy Fauzi (26), adalah salah satu pionir bisnis cuci sepatu di  Indonesia. Pemuda kelahiran Bandung, Jawa Barat ini sukses mendirikan bisnis cuci sepatu beromzet miliaran rupiah bernama Sneaklin.

Mengutip laman resmi Sneaklin, perusahan ini bergerak di bidang pencucian khusus sepatu. Sneaklin resmi didirikan Refaldy Fauzy pada 3 Oktober 2013 silam.

Mengutip Kompas.com, Refaldy awalnya mendapatkan tugas kuliah dari dosen kewirausahaannya, untukmembuat bisnis dengan modal Rp 100.000. Uang Rp 100.000 bisa buat apa? Mungkin itulah yang ada di pikiran Refaldy saat itu. Banyak ide melintas di pikiran Refaldy, namun semua itu dimentahkannya. Hingga akhirnya ia harus mencuci sepatunya, ide cemerlang itu datang.

Uang Rp 100.000 memang bukan modal yang banyak, namun itu cukup bagi Refaldy untuk membeli sabun, sikat, dan packaging. Saat pertama kali memulai bisnisnya, Refaldy mengaku hanya mematok harga teman, yakni Rp 10.000/pasang.

Walau hanya diupahi Rp 10.000, Refaldy melakukan bisnisnya dengan telaten, hingga berhasil membersihkan 250 pasang sepatu dalam waktu 3 bulan. Membawa tas berisi sepatu bersih dan kotor, sudah menjadi kebiasaan Refaldy ketika berada di kampus Universitas Widyatama.

Hingga akhirnya, Refaldy merasa gerah bekerja di rumah dan memutuskan untuk menyewa tempat usaha berukuran seharga Rp 1 juta/bulan di kawasan Jalan Suropati, Bandung.

Usaha kecilnya itu semakin berkembang hingga tempat usaha berukuran 2×3 meter itu tak cukup untuk menampung Refaldy dalam melakukan bisnisnya. Pindah ke tempat lebih besar, Refaldy dihadapi dengan biaya sewa yang membesar pula.

“Karena (biaya operasional) gamasuk, saya ubah konsep usahanya menjadi premium shoes laundry. Sehingga store dan packagingnya lebih bagus, tapi harga pun naik 50 persen, dariRp 30.000 menjadi Rp 40.000 – Rp60.000,” jelasnya.

Harga yang makin meninggi, memaksa Refaldy untuk mengubah target pasarnya. Semula menargetkan mahasiswa berusia 18-24 tahun, kini bisnis cuci sepatu Refaldy dituju untuk pekerja 24-35 tahun.

Perubahan target pasar ini, justru membuat bisnis yang ia berinama SNEAKLIN ini menjadi makin sukses dan mampu meraih omzet lebih besar. Pada tahun 2019, Refaldy sudah membuka 39 cabang SNEAKLIN di Bandung, Bali, Balikpapan, Jakarta, Pontianak, Jabodetabek, dan Palembang.

Omzet usaha cuci sepatu miliknya pun tak bisa dianggap remeh. Refaldy mampu meraup omzet Rp 500 juta/bulan atau miliaran per tahun.Pria yang kini telah menikah ini pun tak malu membagikan kunci suksesnya kepada publik. Refaldy mengatakan jika kunci keberhasilannya adalah jujur mengikuti apa yang diinginkan, serta selalu menjaga kualitas kerja.

“Dari 2013, saya tidak punya biaya marketing. Usaha ini berjalan karena kami mengandalkan kualitas,” ucapRefaldy.

Berawal dari modal Rp 100.000 dan upah Rp 10.000, kini Refaldy sudah mencuci lebih dari 248.966 pasang sepatu dan sukses menjadi pionir  bisnis premium laundry sepatu di Indonesia.

Wah, ada yang mau mencoba meniru kesuksesan RefaldyFauzi (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *