Penting Ciptakan Budaya Berkendara Tanpa Main Ponsel

Kompas.com- 09/07/2019, 13:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemandangan yang sering terlihat di jalan raya, yaitu masih banyak pengguna kendaraan bermotor baik itu mobil atau sepeda motor berkendara sambil mengoperasikan ponsel. Padahal secara aturan dilarang karena bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Tata cara berlalulintas yang diatur dalam Undang-Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan pasal 106 ayat (1) menjelaskan bahwa setiap orang yang menggunakan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Dalam penjelasan yang dimaksud penuh konsentrasi adalah bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan penuh perhatian dan tidak terganggu perhatiannya karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan ponsel atau menonton televisi atau video yang terpasang di kendaraan, atau minum – minuman keras yang mengandung alcohol atau obat – obatan sehingga mempengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan.

Budiyanto, sebagai pemerhati masalah transportasi dan keselamatan berlalulintas menjelaskan, menggunakan ponsel saat mengendarai kendaraan bermotor dapat berakibat dari menurunnya konsentrasi, dan secara otomatis akan mempengaruhi kemampuan dalam mengemudikan kendaraan atau bahkan bisa berakibat pada terjadinya kecelakaan lalulintas.

“Analisa dan evaluasi bahwa setiap kejadian kecelakaan lalulintas pada umumnya diawali dari pelanggaran lalulintas. Menggunakan ponsel saat mengendarai kendaraan merupakan pelanggaran lalulintas,” ujar Budiyanto kepada Kompas.com belum lama ini.

Oleh sebab itu, menurut Budiyanto sangat penting membangun budaya berkendara tanpa menggunakan ponsel. Tertib berlalulintas merupakan tanggungjawab bersama untuk memberikan suatu pencerahan, saling mengingatkan dalam rangka membangun kesadaran berlalulintas menuju kepada budaya tertib demi menciptakan lalu lintas yang dinamis dan kondusif.

Ilustrasi Kecelakaan Karena Bermain Ponsel Saat Berkendara (google)

Budiyanto, mantan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya ini melanjutkan, disadari maupun tidak ini merupakan situasi yang dapat memberikan kontribusi terhadap permasalahan lalulintas.

Seperti apa yang diamanahkan dalam pasal 256 Undang – Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, bahwa masyarakat berhak untuk berperan serta dalam penyelenggaraan lalulintas & Angkutan jalan, berupa pemantauan, masukan, pendapat dan pertimbangan serta dukungan terhadap penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan Jalan.

Ketentuan pidana diatur pasal 283 Undang-Undang no. 22 tahun 2009 tentang LLAJ, yang berbunyi sebagai berikut:

Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan sebagaimana diatur dalam pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Menurut Budiyanto ini baru dari pidana pelanggaran, dan apabila terjadi kecelakaan, ancaman pidananya akan lebih tinggi. Seperti yang diatur dalam Pasal 310 dan Pasal 311 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Pemandangan yang dapat dilihat secara kasat mata dengan jelas masih didapatkan pelanggaran penggunaan telepon pada pengguna kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua relative cukup tinggi, dan sangat menyolok adalah pengendaraa sepeda motor yang berbasis online,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *