Cerita Hanif Ingin Kuliah Jurusan Informatika untuk Kembangkan Kemampuan Pemograman

KONTRIBUTOR GRESIK, HAMZAH ARFAH

Kompas.com – 17/07/2019, 09:51 WIB

Hanif Arroisi Mukhlis saat melakukan pemrograman untuk jam digital yang diciptakannya bersama sang ayah.(HAMZAH ARFAH)

Hanif Ar

GRESIK, KOMPAS.com – Hanif Arroisi Mukhlis (18), berkeinginan melanjutkan pendidikannya hingga ke bangku kuliah.

Anak sulung dari pasangan Ahmad Mukhlis (46) dan Anik Lutfiyah (42), warga Jalan Pati, PerumahanGresik Kota Baru (GKB), Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur, ingin menekuni pendidikan jurusan Informatika. Hanif merupakan remaja berbakat yang kini bersama ayahnya mampu menciptakan jam digital dengan omzet jutaan rupiah. 

 “Ini masih cari-cari untuk kuliahnya. Kemarin sih sudah sempat ikut SBMPTN dan juga dapat panggilan tes di UGM (Universitas Gajah Mada). Kalau saya pribadi memang ingin melanjutkan kuliah jurusan informatika supaya kemampuan bisa semakin terasah,” ujar Hanif kepada Kompas.com, Sabtu (6/7/2019).

Hanif berkeinginan dengan diterima di salah satu universitas negeri jurusan informatika, membuat bakat yang dimiliki di bidang pemrograman dapat lebih berkembang. Dia juga berkeinginan agar bisa lebih banyak membuat karya.

Namun, siapa yang menyangka, Hanif sempat menjalani proses pendidikan yang berliku. Sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Hanif terlihat biasa seperti anak pada umumnya. Sewaktu SMP, Hanif kurang srek saat menempuh pendidikan di salah satu pondok pesantren yang ada di Malang, yang membuat dirinya kemudian menempuh homeschooling.

“Saat itu saya memang homeschooling, usai sempat nggak kerasan di pondok pesantren,” kata dia.

Homeschooling yang dilakoni rupanya membawa berkah tersendiri bagi Hanif dan keluarga. Dengan homeschooling, Hanif lebih dekat dengan komputer, dan seakan menemukan bakat alami yang dimiliki, terutama dalam hal pemrograman.

“Belajar dari internet (cara pemrograman) dan saya coba aplikasikan. Enggak langsung berhasil memang, tapi dengan usaha, lama-lama akhirnya berhasil,” ucap dia.

Sebagai orangtua, pasangan Ahmad Mukhlis dan Anik Lutfiyah sempat sedih ketika Hanif memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. hanif hanya bertahan enam bulan.

“Akhirnya kami berdua (dengan suami) memutuskan homescooling untuk Hanif. Karena kami memahami, mungkin saja Hanif waktu itu tidak bisa leluasa menggunakan komputer karena di pondok pesantren, dan sedikit masalah yang membuatnya tidak betah untuk tinggal lagi di pondok pesantren,” ujar Anik, saat dihubungi Kompas.com, Senin (8/7/2019).

Namun, tak ada yang menduga pilihan untuk homeschooling mengubah kisah hidup anak sulung dari lima bersaudara tersebut.

“Awalnya memang sempat berpikir canggung karena Hanif harus homeschooling, tapi mau bagaimana lagi daripada dia tidak memiliki ijazah dan tidak sekolah. Sebab di Indonesia ini kan, standar sekolah masih ditentukan oleh ijazah,” terangnya.

“Akhirnya kami memutuskan untuk ikut homeschooling-nya Kak Seto. Kemudian Hanif dapat ijazah terakreditasi B dan kemudian dapat melanjutkan ke jenjang SMA. Meski saat itu kami juga sempat ngobrol dengan kepala SMA Muhammadiyah terkait ijazah SMP Hanif,” lanjut dia.

Tapi namanya berbakat, suatu hari Hanif diceritakan oleh Anik dapat mampu membanggakan keluarga dan sekolah, lantaran mampu keluar sebagai yang terbaik dalam lomba olimpiade kimia tingkat nasional yang diselenggarakan Muhammadiyah untuk SMA di bawah naungan lembaga (OlimpicAD V 2017).

“Sekitar tahun 2017, Hanif dapat juara pertama untuk bidang kimia dalam OlimpicAD tingkat nasional di Lampung, yang diselenggarakan oleh pihak Muhammadiyah untuk seluruh SMA-nya,” tutur Anik.

Kini, Anik dan Mukhlis pun sudah mantap dalam membebaskan pilihan kepada Hanif untuk meneruskan program di perkuliahan seperti yang diinginkan. Karena mereka sudah memahami, jika Hanif memang berbakat untuk pemrograman.

“Semoga saja dapat keterima SBMPTN, apakah di ITB atau ITS dengan jurusan yang diinginkan, teknik informatika. Tapi kalau enggak, ya nanti biar dia coba usaha ikut tes di UGM, sebab kemarin sudah dihubungi dan dipersilahkan ikut tes akhir bulan nanti,” tutup Anik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *