Cerita Ketabahan Mbah Miratun, 29 Tahun Asuh 3 Saudaranya yang Keterbelakangan Mental

KONTRIBUTOR SOLO, MUHLIS AL ALAWI

Kompas.com – 19 Juli 2019, 15:36 WIB

Inilah sosok Mbah Miratun, warga Dusun Kayen, Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang tetap bertahan merawat sendirian tiga saudaranya yang mengalami keterbelakangan mental. (KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI)

PONOROGO,KOMPAS.com — Mbah Miratun tak mengingat sudah berapa lama ia sudah merawat satu keluarga beranggotakan tiga saudara kandungnya yang mengalami keterbelakangan mental (idiot).

Meski sudah uzur umurnya, warga Dusun Kayen, Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo tak putus asa merawat ketiga saudara kandungnya tersebut.

Tinggal di rumah berdinding anyaman bambu berukuran 8×7 meter dan berlantai tanah, Miratun tak pernah absen memberikan makan tiga kali sehari kepada ketiga saudaranya, Mesinem (48), Legi (50) dan Sarmon (53). Setiap harinya, Mbah Miratun menyiapkan menu sarapan bagi ketiga saudaranya, mie instan rebus dan nasi, siang hari dan malam hari, sayuran dan telur.

Tiga saudara kandungnya diasuh Mbah Miratun semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia puluhan tahun silam. Tak hanya mengalami keterbelakangan mental, tiga saudara kandung mbah Miratun juga mengalami kelainan fisik pada tubuhnya. Mesinem adik bungsunya, lumpuh dan tuna wicara. Sarmon, mengalami kebutaan dan Legi harus berkomunikasi dengan bahasa tubuh alias tuna wicara.

Bila pagi hari tiba, Miratun dibantu Legi megangkat tubuh Mesinem untuk direbahkan di salah satu sudut teras rumah. Sore harinya, Miratun dengan bahasa isyarat seadanya meminta Legi membantunya kembali mengangkat Mesinem kedalam rumah.

Dari ketiganya, kondisi Mesinem yang paling mengenaskan. Selain mengalami keterbelakangan mental, Mesinem mengalami kelumpuhan total. Kaki dan tangannya sama sekali tidak bisa digerakan hanya untuk sekedar menyangga tubuhnya yang mungil. Hanya mulut yang mampu digerakkannya saat Miratun hendak memasukkan makanan atau minuman.

Mbah Miratun menyuapi roti pemberian warga kepada adiknya Mesinem yang lumpuh total dan mengalami keterbelakangan mental. (KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI)

Miratun pun menolak bila tiga saudaranya itu dirawat di pantai khusus orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental.

“Saya tetap akan merawat mereka,” ujar Miratun.

Miratun menceritakan mulai merawat ketiga saudaranya itu sejak kedua orangtuanya meninggal di awal tahun 1990. Miratun terpaksa merawat sendiri ketiga saudaranya lantaran tidak lagi memiliki kerabat yang mampu membantunya.

“Semua saya lakukan sendiri sejak orang tua kami meninggal,” kata Miratun.

Keikhlasan Miratun merawat ketiga saudaranya yang mengalami keterbelakangan mental membawa berkah tersendiri. Warga sekitar hingga dari luar desa datang silih berganti memberikan bantuan dari bahan makanan hingga uang tunai bagi Miratun.

Setiap harinya ia berburu dedaunan untuk member makan beberapa ekor kambing tetangga kepada dirinya. Dari hasil memelihara kambing, Miratun bisa menyisihkan pendapata nuntuk mencukupi kebutuhan makan tiga saudaranya.

Sutarmi, tetangga rumah Mbah Miratun menceritakan Mbah Miratun sudah merawat tiga saudaranya yang mengalami keterbelakangan mental sejak lama. Warga pun tidak mengetahui penyebab saudara Mbah Miratun lahir dengan kondisi keterbelakangan mental.

“Kami tidakmengetahui penyebabnya. Karena banyak warga di sini mengalami seperti itu meski tidak menikah sedarah,” ujar Sutarmi.

Ia mengatakan kondisi Sarmon dan Mesinem sejatinya tidak seperti saat ini. Sebelumnya, Sarmon masih bisa melihat dan Mesinem masih bisa berjalan normal. Namun tidak tahu penyebabnya, tiba-tiba Sarmon mengalami kebutaan dan Mesinem lumpuh total. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *