Kisah Herayati, Anak Tukang Becak yang Berhasil Jadi Dosen Kimia di ITB pada Usia 22 Tahun

Agnes – Rabu, 31 Juli 2019 | 13:24 WIB

WIKEN.ID – Kisah inspiratif ini datang dari seorang gadis bernama Herayati. Kisahnya mulai viral setahun lalu, ketika ia berhasil lulus dengan perdikat CumLaude di Institut Teknologi Bandung. Banyak orang dibuat kagum olehnya.

Tidak hanya karena predikatnya sebagai lulusan terbaik di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, juga karena kisahnya mengatasi keterbatasan ekonomi yang dideritanya. Bahkan ia semakin bertekad untuk mewujudkan segala mimpinya. Termasuk mimpinya untuk menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung yang diimpikan banyak orang.

Herayati hanya seorang anak dari pengayuh becak. Namun kisah gadis asal Cilegon ini berhasil lulus jenjang S2 dan tidak hanya itu, ia juga berhasil menjadi dosen di ITB di usia 22 tahun. Seperti yang sudah diketahui, nama Herayati menjadi perbincangan banyak orang semenjak ia lulus dari ITB sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3,77.

Tidak berhenti sampai disitu, ia pun kembali membuat banyak orang kagum karena berhasil menyelesaikan jenjang S2 di kampus yang sama. Jika biasanya mahasiswa jenjang pasca sarjana membutuhkan waktu selama 2 tahun, ia hanya membutuhkan waktu 10 bulan saja. Nilai yang ia dapatkan juga memuaskan, yaitu 3,8.

Dilansir dari suar.id, keinginannya untuk masuk ITB ternyata sudah ada sejak di bangku SMP. Keinginan itu muncul ketika guru di sekolahnya menceritakan kisahnya yang berhasil melanjutkan pendidikan di ITB dengan beasiswa full.

” Saya masuk ITB tahun 2014. Awalnya diceritakan sama guru SMP yang alumnus ITB, dan beliau ternyata dapat beasiswa full. Dari situ Hera pengen kuliah tapi dapat beasiswa full, ” ungkap Hera.

Keinginannya makin kuat setelah ia menjadikan kimia sebagai mata pelajaran favoritnya di SMA. Ia akhirnya mengetahui bahwa jurusan kimia terbaik di Indonesia ada di ITB. Perjalanan Hera menuju impiannya tidak mudah, terutama orangtua Hera yang khawatir terkendala biaya.

” Pas Hera bilang mau ke ITB, orangtua sebenarnya khawatir tapi enggak pernah bilang ‘jangan’. Jadi mungkin khawatirnya dipendam,” kata Herayati.

“Bahkan, orangtua saya bilang, ‘masalah biaya urusan belakangan yang penting masuk dulu’,” sambungnya.

Hera memang lulus dari ITB dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,8 namun, bukan berarti tanpa kegagalan. Hera mengaku pernah gagal masuk ITB di seleksi pertama lewat jalur undangan. Tidak patah semangat, Hera mengikuti seleksi berikutnya lewat tes tertulis dan lolos di Teknik Kimia.

Pada awal tahun kuliahnya, Hera mendapat sejumlah beasiswa, di antaranya dari program bidik misi dan bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon. Namun, beasiswa tersebut terkadang masih kurang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Sementara, mengandalkan kiriman dari orang tuanya juga mustahil. Ayah Hera bekerja sebagai pengayuh becak, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.

” Akhirnya saya cari tambahan, mulai dari jadi asisten dosen, hingga ngajar bimbel, ” kata dia.

Setelah berhasil menyelesaikan studi S2-nya, kini Hera akan menjadi dosen kimia di kampus almamaternya, ITB. Herayati akan memulainya pada tahun ajaran baru nanti, yaitu September 2019. Berhasil menjadi dosen di universitas ternama ternyata tak membuat Hera berpuas diri dan berhenti bermimpi. Kini, dia punya mimpi baru untuk dikejar, yaitu untuk menjadi PNS di usia muda.

” Maunya jadi dosen tetap, tapi harus PNS, sambil menunggu penerimaan, jadi dosen luar biasa dulu sementara di teknik untuk kimia dasar, mulai ngajar bulan September ini,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *