Kisah Ikram, Pemuda Pamekasan Jadi Jutawan Berkat Melon Golden Dari Belajar Otodidak via Internet

Selasa, 8 Agustus 2019 08:58

TRIBUN MADURA / KUSWANTO FERDIAN
Ikramullah, Ketua Perhimpunan Petani Muda Pamekasan dan buah Melon Golden, Selasa (6/8/2019). 

Laporan Wartawan TribunMadura.com, Kuswanto Ferdian

TRIBUNMADURA.COM, PAMEKASAN – Berbekal kegigihan dengan belajar otodidak, Ikramullah, Ketua Perhimpunan Petani Muda Pamekasan di Dusun Cangkreng, Desa Cenlecen, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan sukses membuka usaha pertanian melon jenis Golden Alissa.

Ikramullah mengaku, ia mulai mendalami usaha pertanian melon jenis Golden Alissa, sejak bulan November tahun 2018 lalu. Pada saat itu ia masih melakukan penanaman percobaan di lahan miliknya yang sebelumnya ditanami tembakau.

“Mulanya saya menanam sedikit bibitnya menggunakan pot. Setelah itu baru saya pindah kelahan dan Alhamdulillah hasilnya memuaskan,” kata Ikram sapaan akrab nya kepada TribunMadura.com, Selasa (6/8/2019).

Ikram mengaku, belajar ilmu tentang menanam melon jenis Golden Alissa melalui internet. Ia belajar otodidak tanpa bantuan dari siapapun. Berbekal pengetahuan tersebut, Ikram akhirnya mencoba untuk mempraktekan di lahannya dengan membeli bibit yang lebih banyak.

“Saat awal-awal itu saya menanam hanya untuk mengetahui kualitas melon tersebut serta gejala penyakitnya apa. Ya bisa dikatakan riset awal. Cocok apa tidak jika bibit melon itu ditanam di sini,” ujar Ikram.

Tak menyangka, Ikram yang hanya lulusan MA Sumber Bungur Pakong, Pamekasan ini sukses membudidayakan tanaman melon jenis melon Golden Alissa di tanah Madura, khususnya di Kabupaten Pamekasan. Ia mengaku, mendapat bibit melon jenis Golden Alissa ini dari Purwakarta, Jawa Barat, yang ia bawake Pamekasan.

“Bulan Mei 2019, saya mulai serius menggarap lahan dan alhamdulillah, akhir Juli 2019, jerih payah saya membuahkan hasil yang memuaskan,” ucap Ikram.

Ikram menceritakan, awal mula ia punya ini siatif untuk menanam buah melon jenis Golden Alissa tersebut bermula dari kegelisahan petani setempat yang mengeluhkan tentang stagnannya harga tembakau setiap tahunnya.

“Ketimbang menanam tembakau, hasilnya tentu lebih besar menanam melon ini. Bahkan dua kali lipat,” ungkap Ikram.

Ikram mengaku, mulai membuka lahan usaha tanaman melon Golden Alissa tersebut dengan mengeluarkan modal Rp 11 juta. Modal itu ia pakai untuk membeli bibit sebanyak empat bungkus. Per bungkus seharga Rp 650 ribu. Modal Rp 11 juta itu, juga termasuk biaya perawatan, penggarapan lahan, pengobatan serta pemupukan.

“Hasilnya cukup memuaskan. Akhir bulan Juli 2019 kemarin, saya melakukan panen pertama sebanyak 3,8 ton. Panen pertama terjual hingga Rp 20 juta,” kata Ikram.

Buah kerja kerasnya tersebut mengantarkan Ikram menjadi seorang jutawan. Ikram mengutarakan, dari panen tanam melon tersebut, dihasilkan buah yang terdiri dari empat kelas. Untuk kelas tertinggi dipatok dengan harga, Rp 10.000 per kilogram (kg). Sementara kelas paling bawah seharga Rp 4.000 per kg.

“Untuk penjualan melon ini, ada pengepul dari Banyuwangi yang datang kesini. Untuk melon jenis ini biasanya dijual di supermarket,” terang Ikram.

Keberhasilan Ikram membudidaya melon dengan jenis Golden Alissa itu ternyata tidak mudah. Ada trik khusus yang ia praktekkan dilahannya. Ikram mengaku menggunakan trik khusus dengan meminjam cultivator cakar baja agar menghasilkan tanah yang gembur serta menggunakan kapur pertanian agar menaikkan PH (kadar keasaman) tanah.

“Untuk tanaman melon ini kita butuh PH tanah minimal 6 hingga 7. Sedangkan PH tanah disini hanya 5,” jelasnya.

Lebih lanjut Ikram mengatakan terima kasih kepada Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada pihaknya untuk membudidayakan tanaman Melon dengan jenis Golden Alissa itu. Ikram berjanji akan terus mengembangkan lahannya lebih besar lagi untuk membudidayakan tanaman tersebut.

Selain itu, Ikram berharap agar jerih payahnya bersama Perhimpunan Petani Muda Pamekasan di Dusun Cangkreng, Desa Cenlecen, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan bisa mendapat perhatian dari dinas terkait. Ia mengaku saat ini membutuhkan beberapa alat yang lebih canggih. Lantaran, ia saat menggarap lahannya masih menggunakan peralatan seadanya (tradisional) seperti cangkul untuk menggarap lahan.

“Saya berharap dari dinas terkait ada perhatian khusus kepada kami untuk memberikan bantuan dana atau alat-alat pertanian. Supaya pemuda ini lebih giat dan lebih bersemangat lagi untuk bertani. Para petani juga bisa berkreasi dan mandiri,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *