Hebat, 2 Siswi SMA di Minahasa Utara Ciptakan Kertas dari Sabut Kelapa

Hebat, 2 Siswi SMA di Minahasa Utara Ciptakan Kertas dari Sabut Kelapa

SubhanSabu

Selasa, 20 Agustus 2019 – 11:51 WIB

MANADO – Dua siswi SMA Unklab Air madidi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Sulut), Friginia Jessica Caffasso Oey dan Sabbathiny Rumampuk menciptakan kertas yang ramah lingkungan.

Pembuatan kertas pada umumnya menggunakan pohon sebagai bahan baku utamanya. Diperlukan satu batang pohon usia lima tahun untuk memproduksi satu rim kertas.

Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas juga sangat besar, baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas, dan padat, maupun secara kualitatif.

“Kami prihatin dengan penebangan hutan secara liar belakangan ini dimana pembuatan kertas menggunakan pohon sebagai bahan baku utamanya. Juga di sekolah kami banyak menggunakan kertas,” ujar Friginia bersama Sabbathiny, Kamis (15/8/2019).

Mulailah mereka berdua membuat eksperimen dengan melakukan berbagai percobaan sejak 2018. Lewat berbagai referensi yang didapat di internet mereka mulai mencoba membuat kertas dengan memanfaatkan limbah dari sabut kelapa.

“Kami melihat di sekitar rumah kami banyak terdapat limbah sabut kelapa sehingga muncul ide dari kami untuk memanfaatkan limbah tersebut,” kata Friginia.

Mereka tidak sepenuhnya mengikuti petunjuk yang sudah ada di internet. “Karena kami takut jika sudah ada yang membuat. Jadi kami buat dengan ide sendiri, tanpa menggunakan bahan kimia kecuali dari bahan catnya,” tuturnya.

Dari berbagai percobaan berulang-ulang kali, berbagai formula dicoba, mengorbankan banyak panci dan bahan-bahan yang terbuang percuma, terciptalah kertas ramah lingkungan yang terbuat dari serat sabut kelapa. Kertas ciptaan mereka diberi nama eco friper (eco-friendly paper

Bahan-bahan untuk membuat Eco friper terbuat dari serat sabut kelapa, cat pelapis anti bocor dan tepung terigu serta air.

Campuran semua bahan itu menghasilkan kertas yang tahan air dan tidak mudah robek. Untuk satu buah sabut kelapa utuh bisa menghasilkan 2.000 lembar kertas

Keduanya berharap terobosan ini bermanfaat untuk semua orang dan bisa dikembangkan untuk menjadi alternative pembuat kertas. 

“Secara lingkungan, bahan kami lebih ramah, kami juga berharap ini jadi berguna untuk semua orang,” tandas Sabbathiny.

Ecofriper berhasil meraih juara 1 pada lomba parade cinta tanah air tingkat SMA/sederajat dan perguruan tinggi tahun 2019 di Sulut yang digelar oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Keduanya akan mewakili Sulut pada lomba tingkat nasional yang digelar di Provinsi Bali 9-14 Sebtember 2019 nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *