MANUSIA MAKHLUK KEMUNGKINAN

Akademi Lita Harmoni

Selasa, 20 Agustus 2019 10:13

Kalimat seperti orang atheist juga memilki kemungkinan kedepannya ia memutuskan beriman sama maknanya dengan kalimat lebih baik masa lalu preman masa sekarang ia taubat dan jadi Kyai.

Atau sebaliknya, sebaliknya  yang bagaimana ?

Yaitu dari ulama  baik yang berada dijalanNya ke ulama suu’, ulama yang buruk :ulama yang jahat yaitu cenderung kepada  mencintai hal hal yang rendah  (mencintai kesenangan dunia).

Disinilah kita melihat bagaimana soal niat dan hakekat ilmu itu menjadi penting.Ulama suu awalnya bisa saja niatnya benar ditengah jalan berubah ke yang salah.

Imam Al Ghazali menjelaskan :

“Penuntut ilmu ketiga adalah orang yang kesetanan. Ia menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dengan kedudukan, dan membanggakan diri dengan banyaknya pengikut. Ia masuk terperosok ke banyak lubang tipu daya karena ilmunya itu dengan harapan hajat duniawinya terpenuhi. Ia di tengah kehinaan itu merasa dalam batinnya memiliki tempat mulai di sisi Allah karena ia bergaya dengan gaya ulama dan berpenampilan soal pakaian dan ucapan sebagaimana penampilan ulama di saat ia secara lahir dan batin menerkam dunia semata. Orang ini termasuk mereka yang celaka dan mereka yang dungu lagi terpedaya. Tiada harapan untuk pertobatannya karena ia sendiri merasa sebagai orang baik (muhsinin). Ia lalai atas firman Allah, ‘Wahai orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan?’ Ia termasuk orang yang dikatakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ‘Ada sesuatu yang aku khawatirkan pada kalian daripada selain Dajjal.’ Para sahabat bertanya, ‘Apakah itu wahai utusan Allah?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Ulama yang jahat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *