Ini Cara Mahasiswa ITS Mereduksi Pencemaran Air dari Irigasi

Aan Haryono Kamis, 22 Agustus 2019 – 13:54 WIB

SURABAYA – Limbah pupuk kimia dan pestisida sisa dari kegiatan usaha tani, masuk dalam aliran air di irigasi pertanian, dan menjadi salah satu penyebab pencemaran air. Padahal sector pertanian sendiri menggunakan air untuk irigasi sekitar 70-90 persen dari seluruh kebutuhan air di bumi.

Melihat kondisi ini, mahasiswa doctoral dari Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kiki Gustina sari merancang penelitian yang diharapkan mampu membantu mereduksi pencemaran air tersebut.

Ia melakukan penelitian berjudul Constructed Wetlands-Microbial Fuel Cells (CWs-MFCs) sebagai Pereduksi Herbisida Glifosat, dan Aplikasi Biosensor untuk Toxicity Warning pada Limpasan Persawahan.

Kiki menuturkan, tujuan dari penelitiannya ini untuk membuktikan bahwa CWs MFCs sebagai infrastruktur ramah lingkungan mampu mereduksi residu herbisi daglifosat. “Jadi herbisi daglisofat merupakan jenis pestisida pada sector pertanian,” kata Kiki, Rabu (21/8/2019).

Ia melanjutkan, penggunaan herbisi daglifosat memberikan dampak buruk terhadap makhluk hidup di perairan. “Dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi untuk binatang amfibi, serta berefek letal bagi beberapa jenis plankton,” ungkapnya.

MFCs sendiri, katanya, merupakan teknologi pembangkit energy dan pengurangan polusi melalui bakteri. Sedangkan CWs merupakan system berbasis alam yang banyak digunakan pada bidang pertanian sebagai filter areal pertanian dengan badan air. 

Penggabungan MFCs kedalam CWs terbukti mampu meningkatkan kinerja CWs dalam mengurangi residu herbisi daglifosat. Kiki juga menjelaskan, anoda pada MFCs memicu reaksi anaerob CWs.

“Pendekatan ini memiliki keuntungan ganda seperti intensifikasi kinerja CWs dan penghasil listrik,” sambungnya.

MFCs-CWs pada penelitian ini juga bertujuan sebagai peringatan dini terhadap masuknya bahan-bahan yang tidak diinginkan pada persawahan. Hal ini disebabkan jenis infrastruktur hijau tersebut mampu menghasilkan sinyal listrik melalui kinerja mikroba.

“Kinerja mikroba akan turun apabila terdapat zat racun yang mengganggu kehidupan mikroba tersebut,” jelasnya.

Dengan turunnya kinerja mikroba, lanjutnya, maka dapat diketahui adanya zat yang tidak diinginkan memasuki area pertanian. Penurunan tersebut nantinya akan ditandai dengan indikasi dropping listrik. “Indikasi inilah yang menjadi peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan selanjutnya,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *