Kisah Ansari Kadir, dari Bangkrut hingga Menjalankan Bisnis Bersama Kaesang

FIKA NURUL ULYA Kompas.com – 22/08/2019, 10:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – CEO dan Co-Founder PT Sang Khadir Indonesia, Ansari Kadir, mengaku tak mengenal anak ketiga Presiden RI, Kaesang Pangarep, saat mulai merintis usaha Sang Pisang. Presiden Jokowi pun tidak tahu jika Kaesang, putranya, tengah merintis bisnis pisang.

Pria yang kerap disapa Ari ini bercerita, awal mula bertemu Kaesang berkat proposal bisnisnya yang diasebar di sebuah komunitas bisnis usai semua usahanya bangkrut. Kaesang tertarik dengan proposal Ari. Keduanya lantas bertemu untuk membicarakan rencana bisnis itu lebih lanjut.

Mulanya, Ari tidak mengenali Kaesang sebagai anak Presiden Jokowi. Saat pertemuan kedua yang telah disepakati, Ari baru menyadari sosok Kaesang. Itu pun saat Kaesang menyebut nama lengkapnya.

“Saat pertemuan kedua, saya baru sadar itu anaknya Pak Jokowi. Itu pun saat dia menyebut namanya Kaesang, rasanya enggak asing. Pas saya googling ternyata Kaesang Pangarep,” kata Ari saat berkunjung ke Kantor Kompas Gramedia, Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Saya tanya, “Kamu anaknya Pak Presiden?” Kaesang membenarkan,” tambahnya sambil tertawa.

Mulai dari pertemuan itu, Ari mulai merintis usaha bersama Kaesang. Mulai dari percobaan, survei, membangun relasi, research, development, hingga membangun toko pertama tanpa menggunakan label “Anak Presiden”-nya Kaesang.

“Orang bilang karena bapaknya jadi Presiden, bisnisnya jadi jalan. Padahal enggak. Saya bareng dia itu dari tahun 2017 angkat-angkat pisang dari pasar bareng-bareng. Pak Jokowi itu justru enggak tau awalnya Kaesang bangun Sang Pisang,” ungkap Ari.

Menurut Ari, Kaesang mau membangun bisnis bersamanya karena putra Presiden Jokowi itu percaya pada perjuangannya selama ini. Terlebih, Ari punya pengalaman di bidang sales dan marketing yang banyak meraih penghargaan di tempat dia bekerja dulu. Karena keahliannya, Ari cepat naik jabatan. Hingga saat ini, karyawan Sang Pisang telah berjumlah lebih dari 1.000 orang dengan  73 toko. Penjualan tertinggi berada di Malang, Bali, dan Jakarta.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *