Pemuda Tunanetra Penjual Kerupuk Gurilem di Kota Cimahi Ini Kerap Alami Hal Tak Terduga

Kamis, 22 Agustus 2019 10:09 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUN JABAR.ID, CIMAHI – Elwanggi (24), pemuda penyandang tunanetra penjual kerupuk gurilem ini mulanya masih memiliki perasaan tidak puas jika hasil jualannya tidak menghasilkan uang yang banyak.

Namun kini, setelah kerap mengalami hal-hal yang tidak terduga, diamulai sadar dan mulai melakukan aktivitasnya berdagang secara ikhlas. Terlebih dengan kondisi keterbatasan penglihatan, pemuda asal Bekasi ini pun selalu berupaya untuk tidak sering mengeluh.

Dia selalu menjalani rutinitasnya berdagang keliling di Kota Cimahi bahkan hingga ke Kota Bandung. Ia berdagang kerupuk gurilem tersebut ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas bisa hidup mandiri.

Elwanggi, penjual kerupuk di Cimahi yang tuna netra. Elwanggi berjualan kerupuk keliling Cimahi dan Bandung. (syarif pulloh anwari/tribun jabar)

Elwanggi menceritakan hal yang tak terduga sewaktu mendapatkan keuntungan dari hasil jualannya itu. Menurutnya, perhari ia mendapatkan keuntungan sebesar Rp.50 Ribu bahkan lebih.

“Waktu awal-awal selalu menghitung hasil jualannya. Setiap harinya itu saya banyak yang kasih sodakoh (sedekah), ratusan ribu rupiah per harinya, tapi pas pulang dihitung anehnya (keuntungan) pas terus (sesuai dengan kerupuk yang terjual), jika terjual lima dapatnya segitu, harusnya kan lebih (jika ditambah dengan uang sedekah),” tutur Elwanggi kepada Tribun Jabar, Selasa (20/8/2019).

“Suatu ketika, (saya) enggak menghitung hasil jualannya. Ternyata Alhamdulillah dari situ dapat lebih terus. Suatu hari pernah dapat lima ribu (hasil menjual kerupuk), jadi dapat Rp 150 ribu. Oh, ternyata Alloh memberikan rezeki, bahwa rezeki seseorang tidak akan pernah tertukar,” ujarnya.

Elwanggi mengatakan ia berjualan kerupuk gurilem dipasok di daerah Cililin. Pemuda asal Bekasi ini, mengaku hijrah ke Kota Cimahi sejak tahun 2018 namun dirinya sudah dari tahun 2000 menetap di Lembang, KBB bersama ibunya dan kedua saudaranya.

Elwanggi menceritakan alasannya pindah dari Bekasi ke Lembang karena ikut dengan ibunya yang dari kala itu berpisah dengan ayahnya. Seiring berjalannya Elwanggi yang sempat bersekolah di SLB A hingga kelas enam ini memutuskan untuk hidup mendiri di tahun 2018 dengan berjualan sambil mengontrak satu ruang kamar di Kota Cimahi.

“Enggak diterusin sekolah, terakhir sampai kelas enam SD di SLB lembang. Sekarang sambil berjualan kerupuk ini sayang ekos di Jalan Pesantren Dalam, Kota Cimahi,” ujarnya

Hasil dari berdagang kerupuk gurilem ini, Elwanggi menjelaskan keuntungannya sebagian ditabung untuk masa depannya dan sebagian lagi diberikan kepada ibunya.

“Dari hasil jualan uangnya ditabung buat masa depan, sisanya buat sehari hari kaya bayar kosan,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *