Kisah Andreas, Anak Petani yang Berhasil Raih 5 Beasiswa Master di Taiwan

MELA ARNANI Kompas.com – Jumat, 23 Agustus 2019 15:34

KOMPAS.com – Gantungkan cita-citamu setinggi langit, menjadi sebuah kalimat pembuka yang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Andreas Rony Wijaya (23). Alumni prodi Matematika FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) ini diterima dengan beasiswa pasca sarjana secara penuh di 5 universitas di Taiwan. Yaitu National Chiao Tung University (NCTU), National Sun Yat Sen University (NSYSU), National Chung Hsing University (NCHU), National Dong Hwa University (NDHU), dan National Chiayi University.

Andreas dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Bapaknya, Juwari berprofesi sebagai seorang petani dan sang Ibunda Sri Tentrem adalah seorang ibu rumah tangga. Saat menempuh pendidikan sarjana, pemuda asal Klaten, Jawa Tengah ini mendapatkan beasiswa Bidik misi dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

“Dari awal masuk (kuliah) saya langsung dapat bidik misi. Bidik misi inilah yang sangat berperan dalam masa sarjana,” kata Andreas saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/8/2019) pagi.

“Mungkin kiasannya tanpa bidik misi aku hanya akan membantu bapak mencangkul di sawah,” lanjut dia.

Andreas, peraih lima beasiswa pasca sarjana di lima universitas Taiwan berfoto dengan orang tuanya.(Dok. Andreas)

Andreas pun tak mau menyianyiakan kesempatan yang sudah berada di genggamannya.

“Dari bidik misi juga saya ingin berprestasi. Karena saya enggak ingin hanya numpang kuliah dan makan gratis dari uang bidik misi,” ujar dia.

Anak pertama dari dua bersaudara ini berhasil menyabet puluhan penghargaan, bukti prestasinya di dunia pendidikan. Setidaknya 24 prestasi, di mana mayoritas di bidang keilmiahan diraih Andreas, seperti juara 1 Lomba Esai Nasional Matematics Festical HIMMA Universitas Sriwijaya, juara 1 Lomba Artikel dan Alat Peraga Matematika Universitas Negeri Yogyakarta, dan Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional Matriks UMM Malang.

“Pernah ikut lomba waktu SD. Tapi SMP dan SMA tidak. Barulah pas mahasiswa ikutan lomba. Mulainya di sekitar semester 5,” ujar Andreas.

Sejak kecil, tepatnya ketika duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Andreas selalu mendapatkan peringkat tiga besar di kelasnya. Kedua orangtuanya selalu mendidik Andreas dan adiknya untuk disiplin dan tidak pernah meninggalkan ibadah.

Pemuda yang bercita-cita menjadi dosen dan profesor di bidang Statistika ini menceritakan, dirinya sempat ditolak ke satu universitas di Taiwan yang diincarnya, sebelum akhirnya mendapatkan tawaran dari lima universitas di Taiwan.

“November lalu (2018) ada wawancara beasiswa dari NCU, tapi nggak tembus. Awalnya mau udah nyerah dan mau cari kerja aja. Apalagi saat itu bebarengan dengan seleksi CPNS juga,” tutur Andreas.

Alih-alih mundur, kegagalan tersebut justru dijadikan pelecut semangat Andreas untuk meraih impiannya.

“Saya enggak mau mimpiku kalah Cuma karena gagal sekali saja. Karena di luar sana masih banyak orang yang gagal puluhan kali. Saya memilih tetap menjaga mimpi untuk studi lanjut ke luar negeri,” ucap dia.

Andreas menuturkan, bahasa asing sempat menjadi pengganjal terbesarnya dalam proses meraih beasiswa. Tahun berganti, Andreas terus belajar dan mempersiapkan segala keperluan guna mendaftar beasiswa lagi.

“Aku persiapan TOEFL kurang lebih 6 bulan dan tes sampai 6 kali, baik yang prediction atau ITP. Baru dapatnilai yang sesuai,” papar dia.

Persiapan berkas yang dibutuhkannya antara lain perencanaan studi, proposal penelitian, auto biografi, curiculum vitae, motivation letter, dan surat rekomendasi profesor.

Letter of Acceptance atau LoA yang diterima Andreas dari lima universitas di Taiwan.(Dok. Andreas)

5 universitas di Taiwan yang menerima Andreas yaitu National Chiao Tung University (NCTU), National Sun YatSen University (NSYSU), National Chung Hsing University (NCHU), National Dong Hwa University (NDHU), dan National Chiayi University. Andreas pun memilih menempuh gelar Masternya di NCTU, yang merupakan universitas terbaik kedua di Taiwan setelah NTU versi Webometric dan 4ICU.

“Milih NCTU karena secara peringkat paling bagus (di antara empat universitas lainnya) dan setelah melihat riset dari profesor di sana, saya terkesan untuk mempelajari lebih lanjut,” kata dia.

Keluarga menjadi motivasi terbesar Andreas untuk meraih mimpi-mimpinya. “Sesuai janji Allah salah satu hal yang dapat mengangkat derajat manusia adalah dengan ilmu, semoga dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya dapat mengangkat derajat keluarga. Isitilahnya kalau dalam jawa itu mikul dhuwur mendem jero,” ujar dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *