Prinsip – Prinsip Perniagaan Rasulullah SAW

Prinsip – Prinsip Perniagaan Rasulullah SAW

Jumat 23 Aug 2019 11:17 WI

Rasulullah  SAW tak pernah membuat pelanggannya mengeluh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Adalah sebuah fakta sejarah bahwa Rasulullah SAW tak sekadar mempraktikkan perdagangan yang adil dan jujur, namun juga meletakkan prinsip-prinsip mendasar aplikasinya dalam hubungan dagang. Ia tidak pernah membiarkan pelanggannya mengeluh.

Ia selalu menepati janji dan mengantarkan barang-barang yang kualitasnya telah disepakati secara tepat waktu.Tak ada pertengkaran antara Muhammad SAW dengan para pelanggannya seperti yang umum terjadi di pasar-pasar saatitu. 

Dalam sebuah riwayat dikisahkan Abdullah ibn Abi Hamzah yang melakukan jual beli dengan Rasulullah namun sebelum sempat menyelesaikan transaksinya tiba-tiba harus segera pergi. Ia berjanji akan kembali dan menetapkan batas waktunya. Namun, ia lupa akan janjinya dan baru ingat pada hari ketiga.

Saat ia kembali ketempat yang sama, ia menemukan Rasulullah SAW masih berdiri di sana. Muhammad tidak menunjukkan muka marah dan tidak mengatakan sesuatu, kecuali bahwa ia sudah menunggu di tempat tempat selama tiga hari! 

Satu hal yang selalu dipegang Rasulullah adalah ia mengerjakan dengan sungguh-sungguh setiap urusan, dan segera mengerjakan urusan yang lain begitu telah menyelesaikannya. Baginya, tak ada waktu terbuang percuma hanya untuk bertopang dagu alias berdiam diri tanpa bekerja. “Tidak seorang pun pernah memakan makanan yang lebih baik daripada dari hasil kerja dengan tangannya sendiri. Nabi Daud pun biasa makan hasil kerja tangannya (HR Bukhari) 

Larangan dalam perniagaan

Nabi melarang memperdagangkan segala sesuatu yang tidak halal dan dilarang oleh Allah, sesuai bunyi surat Al-Baqarah ayat 173 dan Al-Maidah ayat 3. Semua produk turunannya juga diharamkan. Selain itu, jual beli juga harus dilakukan dengan prinsip kejujuran.

Bila ada barang yang cacat, penjual tidak boleh menyembunyikannya dari pembeli. Rasulullah juga melarang jual beli yang dilakukan secara curang. Misalnya, dengan memasukkan unsur haram dalam suatu barang dan menyebut seolah-olah barang itu haram. 

Rasulullah menyebut Allah sangat melaknat perbuatan seperti itu, sebagaimana orang  Yahudi ketika Dia menyatakan bahwa lemak itu haram, mereka pun mencampurnya, lalu menjualnya serta menikmati harga yang mereka terima (HR Bukhari dan Muslim). 

Nabi sangat tegas dalam urusan itu dan selalu mengingatkan para sahabat agar berhati-hati terhadap barang-barang haram. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori menyebut Nabi SAW melarang harga yang dibayarkan untuk darah, mengutuk orang yang menerima dan membayar riba, orang yang merajah tato di kulit, orang yang mentato dirinya, dan pematung. 

Khusus untuk riba, tak ada ‘ampun dalam prinsip perniagaan Rasulullah. Banyak ucapannya yang terang-terangan menyalahkan semua pihak yang terlibat dalam transaksi riba dalam segala tingkatan. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Jabir menyatakan, “Rasulullah telah mengutuk orang yang menerima riba, membayar dan mencatatnya, serta dua orang saksi atasnya, seraya mengatakan “Mereka semua sama saja. 

Wajib bersikap baik

Nabi selalu bertransaksi dengan kejujuran. Orang yang tidak jujur dalam berntransaksi– tidak main-main nerakalah ganjarannya. Menurut riwayat Abu Dzar, Rasulullah pernah berkata, “Ada tiga orang yang padanya Allah tidak akan berbicara pada hari Kebangkitan, kearahnya Allah tidak akan melihat, yang tidak Allah sucikan dan mereka mendapat azab yang pedih.”Abu Dzar bertanya siapakah mereka. Nabi menjawab bahwa seorang dari mereka adalah orang yang penghasilkan penjualan yang cepat dari suatu barang dengan sumpah palsu (HR Muslim). 

Sebaliknya, saudagar yang jujur dan dapat dipercaya mendapatkan tempat mulia dalam Islam. Mereka akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang yang jujur dan syuhada (HR Tirmidzi). Ada beberapa petunjuk Rasulullah disamping sikap jujur dan adil dalam bertransaksi, yaitu, pertama, penjual tidak boleh mempraktikkan kebohongan dan penipuan mengenai barang-barang yang dijual pada pembeli. 

Kedua, pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan hendaknya diberi tempo untuk melunasinya. Selain itu, pengampunan hendaknya diberikan bagi mereka yang sungguh-sungguhtaksanggupmembayarutangnya.Ketiga, penjualharusmenjauhisumpah yang berlebih-lebihandalammenjualsuatubarang.”Hati-hatilahterhadapsumpah yang berlebih-lebihandalamsuatupenjualan.Meskimendatangkanuntungtapimengurangikeberkahan.”(Muttafaq ‘Alaih) 

Keempat, hanyadengankesempakatanbersama, ataudengansuatuusulandanpenerimaan, penjualansuatubarangakansempurna. Kelima, penjualharustegasterhadaptimbangandantakaran.Keenam, orang yang membayar di mukauntukpembeliansuatubarangtersebutbenar-benarmenjadimiliknya.Nabiberkata,”Barangsiapamembayar di mukauntuksuatubarang, janganbiarkaniamenyerahkanbarangtersebutpada orang lain. 

Ketujuh, Nabimelarangbentukmonopolidalamperdagangan.Dankedelapan, tidakbolehadakomoditas yang dibatasiharganya.tri/berbagaisumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *