Kisah Soewarni 85 Tahun, Profesor Ahli Farmasi yang Pilih Hidup Mandiri di Rusun Lansia

DEAN PAHREVI Kompas.com Senin, 26 Agustus 2019 10:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki masa tua, banyak warga lanjut usia yang memilih hidup mandiri. Alasannya, mereka tak ingin merepotkan keluarga. Namun, Soewarni Mansjoer, nenek berusia 85 tahun punya cerita sendiri soal keputusannya tinggal di Rusun Lansia RIA Pembangunan, Jalan Karya Bhakti, Cibubur, Jakarta Timur.

Soewarni sudah sejak 2009 menjadi penghuni rusun itu.  Sebelum di rusun itu, dia merupakan professor ahli farmasi kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU). Dia mengajar di USU sebagai dosen pasca sarjana bertahun-tahun hingga akhirnya memutuskan pensiun.

Tinggal di sebuah rusun bukan tanpa sebab bagi Soewarni. Cerita itu berawal saat sang suami mengajak dirinya untuk hijrah dari Medan ke Jakarta untuk menghabiskan masa tua bersama. Sang suami pun mengajak dirinya untuk tinggal di Jakarta di sebuah rumah yang kecil dengan mobil dan seorang sopir.

“Katanya kita hijrah ke Jakarta tinggal di rumah yang kecil saja jangan sebesar ini tapi kita punya sopir dan mobil. Saya bilang oke tapi saya (suami) berangkat duluan, nah saya piker dia berangkat duluan untuk cari rumah, eh enggak tahunya dia betul-betul berangkat pulang (meninggal dunia),” kata Soewarni di STW RIA Pembangunan, Kamis (22/8/2019).

Obrolan singkat itu seakan isyarat bagi Soewarni ditinggal sang suami untuk selamanya. Pada 2006, suami tercinta Soewarni meninggal dunia tepat di pangkuannya, sesaat ingin menunaikan shalat. Serangan jantung telah merenggut teman hidup Soewarni itu.

Setelah itu, Soewarni hidup sendiri. Namun, dia tak ingin larut dalam kesedihan. Setahun setelah suaminya wafat, Soewarni memutuskan mewujudkan impian sang suami untuk pindah ke Jakarta dan menghabiskan masa tua di sana. Dia juga tak lupa pesan sang suami agar dirinya belajar mengaji Al-Quran.

“Tahun 2007 saya hijrah dari Medan saya jual semua harta saya di Medan dan hijrah ke Jakarta. Saya beli apartemen di Depok, saya tinggal di sana sekaligus belajar ngaji dengan ustaz di sana,” ujar Soewarni.

Namun, tinggal di sebuah apartemen seorang diri tak membuat Soewarni betah. Hal itu dibarengi dengan guru mengajinya yang juga tidak betah mengajar baca Al-Quran di apartemen.

“Di apartemen saya sendiri, belajar ngaji di apartemen juga, katanya saya enggak betah mengajar ngaji di sini, karena yang lewat itu (di sekitar apartemen) orang-orang yang tidak berjilbab,” ujar Soewarni.

Soewarni Mansjoer (kedua dari kiri), lansia di Sasana Tresna Wreda RIA Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, tengah bermain scarbble, Kamis (22/8/2019) .Ia dulu seorang professor ahli farmasi. (KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)

Selama satu setengah tahun tinggal di apartemen, Soewarni akhirnya pindah pada 2009 ke STW RIA Pembangunan di sebuah rusun di lantai 2. Berkat bantuan sanak saudaranya yang tinggal di Jakarta sebagai penanggung jawab dirinya di rusun, Soewarni diterima sebagai penghuni rusun.

Di sana, Soewarni melakukan kegiatan sehari-hari sekaligus belajar membaca Al-Quran di mushollah milik STW. Di sela kegiatannya, dia juga bisa bersosialisasi dengan teman sebaya. 

Tak hanya itu, berkat gelar akademis sebagai professor ahli farmasi, Soewarno pun diminta untuk mengajar di sebuah Sekolah Tingg iIlmu Kesehatan (STIKES) milik STW yang berada di samping rusun. Dia menyetujui tawaran itu. Sekaligus untuk mengisi waktu luang kegiatan di rusun, piker Soewarni ketika itu.

“Saya sempat ngajar dari 2009 sebagai senat di STIKES, sampai kemarin saya baru berhenti tahun ini karena saya sudah capek saya sudah enggak kuat,” ujar dia.

Kini, Soewarni hidup bahagia di Rusun Lansia RIA Pembangunan. Dia mengaku ingin menghabiskan sis aumurnya di rusun tersebut. “Saya senang di sini, semua yang ada di sini adalah keluarga saya. Ya sampai meninggal (dunia), saya mau di sini,” ujar Soewarni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *