Kisah Asri Wahyuni, dari Buntung Kini Menjahit Untung

Selasa 03/09/2019, 11:40 WIB

Penulis Fika Nurul Ulya | Editor Erlangga Djumena
JAKARTA, KOMPAS.com – Asri Wahyuni (41), seorang pengusaha baju-baju muslim asal Cilegon ini, membuktikan bisnis apapun bisa berkembang selama berusaha terus-menerus. Wanita yang akrab disapa Asri omo bercerita bahwa dirinya memulai bisnis baju sejak tahun 2009. Awalnya, dia hanya mengambil merek baju lain yang kemudian diganti menjadi merek produksinya sendiri, Kanaya Boutique.
“Cuma tambah ke sini, saya ngerasa enggak cocok gitu dengan jahitannya. Saya merasa kurang ini lah kurang itu lah, akhirnya saya coba buat desain dan jahit sendiri, merekrut penjahit,” kata Asri kepada Kompas.com di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (30/8/2019).


Mulai tahun 2015, dengan tekad kuat akhirnya dia memutuskan untuk menjahit dan memproduksi baju-baju dagangannya sendiri. Dengan modal Rp 15 juta, dia membeli 2 mesin jahit, 1 mesin obras, dan memperkerjakan 3 karyawan. Meski banyak perbedaan positif yang didapat saat dia memutuskan untuk produksi sendiri, hal itu tak serta-merta membuat bisnisnya berjalan lancar. Dia mesti berjuang dari nol dan sempat mengalami kerugian. Terlebih, paparan media online dahulu tidak sedahsyat sekarang.


“Waktu itu kita pernah rugi banyak banget waktu promosi tahun 2015. Dulu pemasarannya masih harus pakai majalah karena online kan belum sedahsyat sekarang. Kita promo di majalah, bayar model, sementara pemasukan menipis. Enggak enaknya di situ sih,” ungkap Asri.
Semakin ke sini, kata Asri, media sosial seperti Instagram menjalankan perannya dengan baik. Dia selalu mendapat orderan membeludak dari media sosial maupun reseller-resellernya.
“Media online kan lagi kekinian banget kan. Jadi kita awalnya mulai dari online dulu dan sedikit-sedikit Alhamdulillah sih sekarang sudah berkembang,” ucap Asri.

Adapun produk yang dia jual adalah baju-baju muslim syar’i dan jilbab (khimar) yang dibanderol mulai dari Rp 500.000 ke atas. Saat ini, dia telah memperkerjakan 25 penjahit dan 3 admin. Selain itu, Asri telah memiliki 60 reseller di seluruh Indonesia. Kendati telah berkembang, Asri tak berminat membuat butik di Jakarta maupun daerah lainnya. Terbukti, dia hanya memiliki 1 butik di rumah produksinya di Cilegon.


“Karena ya itu tadi dengan seller-seller kita saja sudah kewalahan. Butiknya cuma ada di Cilegon. Saat ini kita juga sudah close pendaftaran reseller, sudah keluar kapasitas,” katanya sambil tertawa.
Tak berhenti sampai situ, baju-bajunya kini sudah sampai ke Qatar dan Abu Dhabi. Ketika ditanya omzet, dengan malu-malu Asri enggan menjawab. “Per bulan banyak, ya. Enggak enak nyebutnya. Kisaran segitulah,” candanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *