Kisah Pariyah Sukses Jual Sukun Goreng hingga Jepang dan Hongkong

Kompas.com – 04/09/2019, 09:44 WIB

Penulis Kontributor Solo, Labib Zamani | Editor Khairina  

KLATEN, KOMPAS.com – Pariyah (54) warga Dusun Sidosari, Desa Randusari, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah tak menyangka sukun goreng buatannya terjual hingga ke pasar luar negeri.

Pariyah merintis usaha rumahan berupa olahan sukun goreng itu sejak tahun 2015 atau sekitar tujuh tahun yang lalu. Dengan modal pas-pasan, sukun goreng buatannya itu sudah dijual ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Bandung, Tasikmalaya, Surabaya, Blitar, dan Jepara.

Bahkan, sukun goreng dengan khas bumbu garam dan bawang tersebut merambah ke pasar luar negeri, yaitu Jepang dan Hongkong. Pesanan ke luar negeri mencapai 1,5 kuintal per bulan. Sukun goreng dikemas dalam ukuran 3 kilogram lalu dikirim lewat pos dengan biaya ditanggung pemesan. Dalam sebulan, ibu dari tiga anak tersebut mampu meraup keuntungan dari hasil menjual sukun goreng hingga Rp 17 juta.

Dari hasil keuntungan itu, Pariyah sekarang dapat membeli dua unit mobil dan sebidang tanah untuk mengembangkan usahanya tersebut. Pariyah menceritakan, awalnya dirinya hanya sebagai seorang pengepul buah sukun. Setiap hari, Pariyah dan anak keduanya Tri Hartoko mengirim pesanan sebanyak 1.000-1.500 sukun ke Cilacap, Jawa Tengah.

“Juragan yang saya kirimin sukun itu bilang ke anak kedua saya (Tri Hartoko) untuk mengolah (sukun) sendiri di rumah,” kata Pariyah ditemui Kompas.com di rumahnya, Jumat (30/8/2019).

Pariyah dan anak keduanya itu kemudian mencoba merintis sendiri usaha olahan sukun goreng di rumah. Ada dua macam sukun goreng buatan Pariyah, yaitu stik dan keripik sukun.

“Dari pertama itu hanya tiga orang pegawai dibantu sama keluarga ada tiga orang. Jadi enam orang waktu itu,” ungkap istri Pardi Miharjo itu.

Sukun goreng buatan Pariyah terus berkembang. Saking banyaknya permintaan, Pariyah memberanikan menambah pegawai. Total pegawai yang dimiliki sekarang ada sebanyak 12 orang berasal dari warga sekitar. Mereka ada yang bertugas memotong sukun, menggoreng hingga proses pengemasan.

Pariyah mengatakan dalam sehari dirinya bisa menghabiskan sebanyak 1.000 buah sukun untuk pembuatan stik dan keripik sukun. Selama ini Pariyah membeli bahan baku sukun dari petani sukun di Klaten, Tawangmangu, Karanganyar, Cilacap, dan Tasikmalaya.

“Banyak permintaan sampai saya sendiri kewalahan karena kekurangan stok,” ungkapnya.

Sukun goreng buatan Pariyah dikemas dalam bungkus plastik berukuran 2,5 kilogram. Satu kilogramnya dijual dengan harga Rp 35.000 untuk stik sukun dan Rp 30.000 untuk keripik sukun. Dengan keberhasilan usahanya itu Pariyah pun berkeinginan untuk melaksanakan ibadah umrah ke tanah suci Mekkah.

“Insya Allah kalau Allah mengizinkan saya, saya ingin melaksanakan umrah. Saya sudah persiapan menabung sedikit-sedikit,” terang dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *