Kisah Inspiratif Relawan dari Pidie, Ikhlas Cerdaskan Yatim Tanpa Dibayar

Selasa, 10 september 2019 10:48 WIB

SIGLI – Lukman (35), pria asal Lhok Kaju, Kecamatan Indrajaya, Pidie, sehari-hari bekerja sebagai tenaga Program Keluarga Harapan (PKH) pada Dinas Sosial (Dinsos) Pidie. Di sela-sela kesibukannya, Lukman kemudian berpikir untuk membagikan ilmu yang didapat selama mengikuti kuliah di Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Banda Aceh kepada orang lain, terutama mereka yang kurang mampu secara ekonomi.

Karena itu, sejak tahun 2010 lalu, Lukman memberanikan diri membuka lembaga pendidikan bahasa Inggris di kampung halamannya. Di lembaga yang diberi nama ‘Lhok Kaju English Center (LEC),’ itu Lukman memberi kesempatan belajar bahasa Inggris secara gratis kepada anak yatim dan anak-anak fakir miskin yang ada di kawasan itu. Agar tidak mengganggu tugasnya sebagai tenaga PKH, Lukman melaksanakan proses belajar mengajar di lembaga tersebut pada setiap hari Minggu.

Lukman kepada Serambi, Sabtu (7/9/2019), mengatakan, dirinya terpanggil untuk membuka tempat belajar bahasa Inggris secara gratis karena ingin membantu anak yatim dan fakir miskin yang tak mampu mengikuti kursus. Sebab, sebagian dari mereka berkeinginan belajar bahasa Inggris, tepi terbentur dengan biaya.

Awalnya, sebut Lukman, dirinya membuka lembaga belajar bahasa Inggris di gampongnya Lhok Kaju. Namun, pelan tapi pasti jumlah anak-anak yang berminta untuk belajar terus bertambah. “Dulu yang kami ajari hanya anak yatim dan anak kurang mampu di sekitar Lhok Kaju. Tapi, kini sudah ada yang dari sejumlah gampong di Kecamatan Pidie dan Peukan Baro dengan jumlah total 978 orang. Selain belajar bahasa Inggris, anak-anak juga kita ajari kitab. Semuanya gratis,” ungkap Lukman seraya menyebutkan ia melaksanakan kegiatan di lembaga tersebut bersama 15 temannya.

Ia mengungkapkan, belajar dilakukan di alam terbuka. Anak-anak duduk di atas terpal yang dibentangkan di atas tanah. Proses belajar mengajar dimulai pukul 08.30-12.00 WIB. Anak yatim yang diajarkan bahasa Inggris mulai dari SD hingga SMA. Kepada peserta didik, sambungnya, juga diberikan snack, minuman, dan buku yang merupakan sumbangan dari hamba Allah setelah melihat kegiatan LEC Pidie yang dipasangnya di dinding facebook.

“Ada juga bantuan pribadi dari pejabat Pemkab Pidie. Saat ini, sisa dana sumbangan hamba Allah Rp 9 juta lebih. Dana itu saya gunakan untuk biaya konsumsi anak-anak setiap ada jadwal belajar. Laporan penggunaan sumbangan dari berbagai pihak tersebut saya update pada akhir bulan,” jelasnya.

Meski tak menerima bayaran dari kegiatan itu, namun Lukman merasa bangga bisa karena bisa menjadi bagian dari pihak yang ikut mencerdaskan anak bangsa. Apalagi, sejak ia membuka LEC sudah banyak anak-anak yatim dan anak dari keluarga kurang mampu di tiga kecamatan itu yang pandai berbahasa Inggris. “Dalam proses belajar mengajar ini kami tak memungut sepeser uang dari anak yatim dan anak dari keluarga miskin,” pungkasnya.

Berkat kegiatan sosial itu, tambah Lukman, dirinya sudah berulangkali menerima penghargaan sebagai inisiator belajar gratis. Padaahun 2017, sebut Lukman, ia mednapat hadiah emas murni dari Pemkab Pidie untuk kategori bahasa Inggris gratis. Selanjutnya, KNPI Award 2017 untuk kategori pemuda inspirasi pendiri pendidikan gratis, Sosial Award 2018 dari Dinas Sosial Aceh dan Insan Pendidikan Award dari Dinas Pendidikan Pidie Tahun 2019 untuk kategori pendidikan gratis. (muhammad nazar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *