10 Muharram, Warga di Kota Baubau Gelar Tradisi Menyuapi Anak Yatim

Kamis, 12 September 2019 16:00 WIB

BAUBAU – Warga Eks Kesultanan Buton di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), menggelar tradisi ‘Pekandeana Ana-Ana Maelu’ atau menyuapi anak yatim dan piatu.

Tradisi oleh warga setempat digelar sudah turun temurun setiap hari ‘Asyura atau 10 Muharram yang tahun ini bertepatan dengan 10 September 2019.

Tradisi ‘Pekandeana ana-ana Maelu’ diawali dengan memandikan anak yatim piatu oleh “bhisa” atau dukun kampung perempuan yang menggunakan pakaian adat Buton.

Selanjutnya anak-anak yang sudah dimandikan dibawa ke dalam ruangan yang sudah disiapkan makanan tradisional Buton, berupa lauk dan pauk serta kue-kue tradisional .

Kemudian mereka disuapi oleh pemilik rumah dan tokoh adat dan diberikan amplop berisi uang, biasa disebut dengan istilah uang lebaran.

Di mata orang Buton, memberi makan anak-anak yatim adalah tradisi indah yang tak sekadar dilakukan untuk mengenang cucu Rasulullah. Tapi juga pesan kuat tentang solidaritas dan kekuatan komunitas melalui sikap saling menyantuni.

Wali Kota Baubau, AS Tamrin, mengatakan, bukan hanya di rumah warga, Pemerintah Kota Baubau juga tahun ini menggelar ritual Pekandeana Ana-ana Maelu, di mana anak yatim diundang di rumah jabatan pemimpin daerah dan disuapi serta diberi uang lebaran.

Hingga kini, ritual adat ini masih dirayakan. Tiap kali menjelang 10 Muharram, anak-anak yatim di Baubau akan merasa bahagia. Semua anak yatim akan diundang ke rumah-rumah. Anak yatim dan piatu diperlakukan bagai raja yang harus dilayani dan dikuatkan batinnya. (rhs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *