Kisah Inspiratif Seorang Tunanetra yang Berhasil Jadi Dosen Tetap

Kamis, 12 September 2019 01:50 WIB

Jakarta, IDN Times – Penyandang tunanetra kerap kali dicap sebagai tukang pijat atau jualan kerupuk. Namun pandangan tersebut berhasil dipatahkan oleh Ramaditya Adikara.

1. Sejak kecil sudah bercita-cita jadi guru

Terlahir dengan kekurangan, tidak membuat Rama putus asa. Sejak kecil, Rama ingin menjadi guru, beruntung orangtua Rama selalu membimbing dan mensupport Rama hingga akhirnya bisa menyelesaikan studi S2 di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Dia menggeluti dunia teknologi, berkat keuletannya dia menjadi komposer game yang mengantarkannya menjadi bintang tamu di Kick Andy. “Alhamdulilah cita-cita saya kesampaian setelah tampil di Kick Andy,” ucapnya, Minggu (8/9).

2. Rama lulus seleksi dosen

Usai tampil, lanjut Rama, dia mendapat pesan pendek dari Suarna yang merupakan trainer sekaligus pemilik LP3I di Pondokgede, Bekasi yang berisi tawaran menjadi dosen di kampus tersebut.

Rama tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dia resmi menjadi dosen pada awal Maret 2012.

“Saya juga mengikuti proses wawancara dan dinilai memang layak serta lulus menjadi dosen. Saat itu saya memberi kuliah umum untuk seluruh mahasiswa mulai dari tingkat 1 hingga tingkat 3,” ujar Rama yang juga seorang motivator.

3. Pasang aplikasi tambahan untuk mengajar

Dia mengaku tidak ada kesulitan ketika mengajar di kampus. Rama mengungkapkan perkembangan dunia teknologi membuat pekerjaan mudah.

“Saya memasang aplikasi-aplikasi khusus di notebook, semisal aplikasi pembaca layar. Dengan aplikasi ini saya bisa mengetahui isi notebook dengan mendengarkan informasi yang telah diubah ke bentuk suara. 

Saat presentasi materi pun dijalankan tanpa asisten, murni menggunakan PowerPoint dan Youtube.

“Saat ini semua serba digital jadi saya berikan tugas juga bentuk digital begitu juga tugas dari mahasiswa,” terangnya.

4. Menghafal 100 jenis suara mahasiswa

Tantangan terbesar bagi dia sebagai penyandang tunanetra saat berkomunikasi dengan mahasiswa. Untuk mengenal mahasiswa dia menghafal lebih dari 100 jenis suara. “Memang susah, namun bisa diakali dengan menandai mahasiswa yang paling banyak bicara, lalu bertahap ke mereka-mereka yang lebih pendiam,” ucapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *